Senin, 30 Mei 2016

MEMBENTUK GENERASI BERKARAKTER MELALUI PENGENALAN KARAKTER TOKOH PEWAYANGAN

Arjuna - Dok. Pribadi

“Jangan heran kalau kelak kita harus nanggap wayang (mengundang pentas wayang) dengan dalang orang asing.” Kata bapak saya. Ketika itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Beliau kelihatan kesal, meski tidak marah. Penyebabnya adalah anak lelaki paling bontotnya, lebih menyukai tayangan televisi semacam Kesatria Baja Hitam dan Silver Hawk ketimbang menuruti ajakannya untuk sowan di rumah Mbah Tumiran. Sekedar melihat-lihat koleksi gamelan (alat musik Jawa) dan wayang kulit  milik seniman pinggiran di kota Nganjuk itu.
Demi mematuhi dan tak mau mengecawakan bapak, dengan sangat terpaksa saya pun manut (menurut). Mengikuti ajakannya untuk ikut nimbrung menemani beliau ngobrol dengan Mbah Tumiran. Senior bapak di komunitasnya.
Tidak menarik. Hanya barang-barang usang yang tak jauh beda dengan benda kuno di museum, bathin saya setiap berada di serambi rumah Mbah Tumiran. Ratusan wayang kulit dan seperangkat gamelan yang memenuhi ruangan tempat beliau berdua cangkruk (nongkrong) sama sekali tidak membuat saya berminat mengenalinya. Paling banter saya hanya bermain memukul-mukul gong sekeras-kerasnya lalu lari keluar halaman ketika bapak berteriak menegur saya.
Begitulah, keinginan bapak untuk mengarahkan saya mengikuti jejaknya menjadi seorang praktisi pewayangan seperti bapaknya (kakek saya) tak pernah terwujud hingga sekarang. Namun satu hal yang membuat saya kagum adalah beliau tak pernah memaksakan harapannya itu.  
“Jaman semakin maju. Pertumbuhannya juga semakin jauh meninggalkan seni dan budaya mbah-mbah (nenek moyang) kita!” Ucap bapak ketika suatu hari saya melihat-lihat setumpuk wayang koleksinya.
Ada ketertarikan yang terlambat pada diri saya. Keinginan untuk mengenal lebih jauh alat peraga pementasan cerita Mahafiksi itu. Fiksi gubahan Kanjeng Sunan Kalijogo dari versi aslinya. Sebuah tontonan yang ternyata sarat dengan tuntunan.
Adalah Pandawa, lima laki-laki bersaudara yang merupakan putra dari Dewi Kunti. Mereka digambarkan sebagai tokoh protagonista.
Melalui pagelaran wayang kulit ini, Kanjeng Sunan Kalijogo mencoba memasukkan syiar Islam. Beliau mengerti bahwa masyarakat Jawa ketika itu sangat menyukai pertunjukan wayang. Sehingga media ini sangat efektiv dijadikan dakwah.
Pandawa Lima sendiri sebenarnya adalah pengejawantahan dari lima rukun Islam. Mereka adalah Puntadewa, Werkudara, Arjuna, dan si kembar Nakula - Sadewa.

Pandawa - image google
1.PUNTADEWA

Saudara tertua dari Pandawa.  Ia dikenal juga dengan nama Yudhistira, Ajisataru (yang tidak memiliki musuh), Samiaji (menghormati atau memperlakukan orang lain seperti diri sendiri), dan masih banyak julukan lainnya.
Puntadewa dikisahkan memiliki darah putih, sebagai gambaran betapa sabarnya dia. Putra tertua Prabu Pandu ini dianugerahi Jamus Kalimosodo. Berupa sebuah Kitab atau Buku Pustaka.
Jamus Kalimosodo dikiaskan sebagai Kalimat Syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama.
2. WERKUDARA
Putra kedua Prabu Pandu, adik dari Puntadewa. Disebut juga sebagai Bima.
Ia digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar, tidak bisa berbahasa kromo inggil (bahasa Jawa halus) meski sedang berbicara dengan siapapun. Tak peduli lawan bicaranya seorang yang tinggi kedudukannya.
Werkudara adalah kiasan dari rukun Islam kedua, Sholat lima waktu. Bahasa Sholat itu universal. Tidak peduli dimanapun dan berasal dari suku bangsa manapun, lafal niat dan bacaan Sholat tetaplah sama.
3. ARJUNA
Kesatria penengah Pandawa, atau anggota lima bersaudara yang tengah-tengah urutan kelahirannya.
Terlahir dengan nama Permadi. Dikenal juga sebagai Janaka, Partha, Palguna, Begawan Mintorogo, Begawan Ciptaning, dan lain-lain.
Arjuna memiliki kesaktian paling digdaya diantara saudara-saudaranya. Dianugerahi senjata pusaka ampuh berupa Panah Pasoepati dan Brahmastra. Ia juga ditakdirkan sebagai lelaki paling tampan sejagad. Tak ada laki-laki satu pun yang menandingi paras ketampanannya.
Adik Werkudara ini kiasan dari rukun Islam ketiga, Puasa Ramadhan. Diantara dua belas bulan dalam kalender Islam, terdapat satu bulan yang kemuliaannya (digambarkan sebagai ketampanan Arjuna) tidak tertandingi kesebelas bulan lainnya. Bulan Suci Ramadhan.
4-5. NAKULA – SADEWA
Merupakan anggota Pandawa nomor empat dan lima yang terlahir kembar. Nakula Sadewa adalah kiasan dari dua rukun Islam yang kembar.
Rukun keempat dan kelima Islam (Zakat dan Haji) disebut kembar karena keduanya sama-sama diwajibkan hanya bagi seorang Muslim yang mampu saja.
*****
Betapa indahnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni dan budaya bangsa kita. Sayang, sekarang semakin sulit menemukan anak-anak yang mau mengenali tontonan yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan peradaban dunia dari Indonesia itu.
-
-
Surabaya, 30 Mei 2016
(Heru Sang Mahadewa)
-----------------------------
Tulisan ini saya dedikasikan untuk alm. Mbah Tumiran, alm. Mbah Sumo Mardjan, alm. Mbah Djianto, Mbah Djiang, Mbah Mintorogo, Kang Mas Agung Sudarwanto, dan para penggiat seni budaya di Nganjuk yang tak pernah minder melestarikan warisan luhur mbah-mbah kita.

18 komentar:

  1. Kontekstual sekali mas tulisannya. Sudut pandang baru bagi saya.

    BalasHapus
  2. Saya selalu mendapatkan ilmu dan wawasan baru setiap membaca tulisan mas Heru.. Mantap mas..terimakasih sudah berbagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bang Syaiha.
      Saya blm ada apa-apanya.

      Hapus
  3. Terimakasih mas. Sudah berbagi ilmu.

    BalasHapus
  4. Ak juga baru tahu loh Her...
    Hebat awakmu ki yooo

    BalasHapus
  5. Mantap, ini pengetahuan baru bagi saya yang bukan orang Jawa, Mas Heru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Munawar.
      Kita sama2 belajar.

      Hapus
  6. Haa~ aku suka banget sama tokoh pandawa, bang.. Apalagi sama arjuna, hehe..

    Tau ga bang? Aku jadi tertarik sama pandawa itu karena baca komik pandawa karya mangaka (pembuat komik) asal indonesia, lho. Melalui komik yg dikemas dengan apik (gambarnya bagus dan kisah/naskahnya diceritakan dengan seru), aku makin suka wayang, utamanya pandawa. Lalu... melalui tulisan bang heru yg ga neko-neko, aku jadi makin tertarik, penasaran, dan kangen sama kisah pandawa ^^~
    #RinduKepoinPandawa
    #MakasihBangHeru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga Mbk Intan ..
      Semoga minat generasi penerus untuk menyukai wayang tidak punah :)

      Salam bahagia.

      Hapus
  7. Wah... pingin membaca cerita pandawa jadinya. Dimana yah nyarinya mas?

    BalasHapus
  8. ninggal jejak, besok2 tak lanjutiiin
    makasih kak

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *