Sabtu, 29 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 20)



Pandawa - image google


4-5. NAKULA - SADEWA

Pasukan Pringgodani datang menyerang … pasukan Pringgodani datang menyerang!

Gegap gempita bala tentara Astina dipimpin tiga senopati segera menghadang kawanan bangsa raksasa. Arya Banduwangka, Arya Bargawa dan Arya Bilawa. Mereka adalah kesatria pilih tanding yang telah mengabdi lama kepada Prabu Panudewanata.

“Bargawa, Bilawa, lindungi istana kaputren!” perintah Arya Banduwangka.

“Biar aku menahan mereka disini!” lanjutnya.

“Sendika dhawuh, kakang!” jawab Arya Bargawa dan Arya Bilawa serempak. Mereka segera meninggalkan senopati tertua Astina yang telah menjadi panglima perang sejak era pemerintahan Prabu Krisnadipayana. Arya Banduwangka.

Arya Bargawa dan Arya Bilawa melesat ke istana kaputren. Dengan sigap mereka segera memerintahkan para prajurit menutup rapat-rapat gerbang tempat tinggal Ratu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Formasi bertahan pun disiagakan mengelilingi istana itu.

Sementara di Alun-Alun, Arya Banduwangka langsung menggeber pasukannya. Meski sudah tua, tetapi kegesitan senopati senior Astina itu tetap seperti saat ia masih belia. Senjatanya menari-nari diantara kawanan bangsa raksasa. Menumbangkan satu per satu pasukan Pringgodani.

“Keroyok!” perintah pangeran Arimba. Putra Mahkota sekaligus panglima perang Pringgodani.

Sontak empat raksasa maju mengepung Arya Banduwangka. Mereka adalah senopati Pringgodani yang juga adik Prabu Tremboko. Raden Brajadenta, Raden Brajamusti, Raden Brajalamatan, dan Raden Brajawikalpa.

Bukan Arya Banduwangka jika gentar menghadapi keroyokan empat senopati Pringgodani. Satu langkah pun ia tidak mundur. Kesatria tua Astina itu terus memainkan ilmu kanuragan. Membuat cukup keteteran empat raksasa yang mengepungnya.

Beberapa saat imbang dalam pertarungan satu lawan empat, akhirnya tenaga Arya Banduwangka mulai menurun. Dalam sebuah pergumulan, Raden Brajadenta berhasil menyambar  kaki sang senopati tua Astina.

Arya Banduwangka terjungkal, belum sempat jatuh ke tanah, Raden Brajamusti dan Raden Brajalamatan mengunci kedua tangan dan kakinya. Disusul Raden Brajawikalpa yang menyambar kepala lalu menggigit urat lehernya.

Putus!

Arya Banduwangka roboh dengan leher bersimbah darah. Gugur sebagai kesatria Astina.

“Gusti Arya Banduwangka meninggal … Gusti Arya Banduwangka meninggal!” teriakan para prajurit Astina bersahut-sahutan terdengar hingga ke istana kaputren.

Prabu Pandudewanata yang sejak tadi masih tenang dan menetap di dalam istana bersama kedua istrinya, akhirnya keluar menemui para penjaga kaputren,”habisi mereka, Bargawa, Bilawa. Nanti aku menyusul!” perintahnya.

“Sendika dhawuh, gusti prabu!” jawab keduanya serempak, lalu melesat ke alun-alun Astina.

Melihat Arya Banduwangka terkapar di tengah palagan dengan darah bercucuran dari leher, dua senopati muda Astina mengamuk.

Arya Bargawa dan Arya Bilawa seperti kesetanan. Keduanya menjelma seperti Dewa Kematian bagi pasukan Pringgodani. Empat raksasa yang tadi mengeroyok Arya Banduwangka dihajar habis-habisan.

Raden Brajadenta dan Raden Brajamusti babak belur oleh Arya Bargawa. Sementara Raden Brajalamatan dan Raden Brajawikalpa jatuh bangun melawan Arya Bilawa.

“Mundur!” teriak Pangeran Arimba dari belakang barisan pasukannya.

“Jangan mundur!” potong Prabu Tremboko. Raja Pringgodani itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Arya Bargawa dan Arya Bilawa.

Sesaat dua senopati Astina ternganga melihat sosok yang menghadang mereka. Prabu Tremboko bukanlah lawan tanding yang mudah dikalahkan. Ia adalah murid kesayangan dari Prabu Pandudewanata.

“Keluar engkau, Prabu Pandu!” teriak Prabu Tremboko.

“Lawan aku, muridmu. Kita buktikan siapa yang lebih hebat antara Astina dan Pringgodani!” sesumbarnya.

Prabu Tremboko tersentak ketika seseorang menepuk-nepuk pundaknya. Entah datang darimana, orang yang ditantangnya telah berdiri di belakangnya.

“Sungguh mulia perbuatanmu, Tremboko.” ucap Prabu Pandudewanata.

“Maafkan aku, guru. Hari ini kita harus bertarung hingga titik darah penghabisan. Anggap saja kita adalah dua kesatria yang sama-sama mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsanya!” balas Prabu Tremboko.

“Apa maksud ucapanmu?” tanya sang guru.

“Semua sudah jelas, tidak ada lagi yang perlu dibahas, guru!” jawab murid.

“Jika aku kalah, ini adalah cara seorang guru mengirim muridnya ke swarga loka. Sebaliknya, andai guru yang kalah, ini adalah bhaktiku untuk mengirimmu ke swarga loka!" tutup Prabu Tremboko. Tanpa basa-basi lagi, raja Pringgodani dengan berani melayangkan serangan kepada gurunya. Prabu Pandudewanata.

Kedigdayaan dan kehebatan raja Astina yang sudah tersohor bukanlah hanya omong kosong. Tanpa kesulitan ia menangkis pukulan demi pukulan muridnya.

Prabu Tremboko mencabut pusaka pamungkasnya, Keris Kalanadah. Tak kalah gertak, sang guru Prabu Pandudewanata juga mengeluarkan Keris Pulanggeni. Dua senjata ampuh itu saling beradu.

Prabu Pandudewanata tidak mau berlama-lama menguras tenaga. Ia ingin menyelesaikan lebih cepat pertarungan sekaligus memberi pelajaran kepada murid yang dianggapnya durhaka. Meski sebenarnya pertarungan itu adalah hasil adu domba Harya Suman.

Dengan sebuah gerakan yang belum pernah diajarkan kepada sang murid, Prabu Pandudewanata berhasil mengecoh Prabu Tremboko. Disusul hunjaman Keris Pulanggeni yang ia tancapkan tepat ke jantung raja Pringgodani.

Prabu Tremboko terkapar tak berdaya. Berjuang melawan maut oleh pusaka gurunya.

Prabu Pandudewanata tersenyum,”tenanglah dalam istirahat panjangmu di alam sunyaruri, Tremboko!” ucapnya lirih. Ia puas bukan sekedar bisa mengalahkan murid durhakanya,  tetapi juga karena kutukan Resi Kindama tak terbukti.

Prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim telah melakukan adu asmara ketika membawa Lembu Andini berkeliling jagat raya seharian tadi.  

“Hahaha .. aku masih hidup, Kindama! Kutukanmu tak berlaku untukku!” tertawa puas Prabu Pandudewanata. Ia tidak menyadari bahwa Prabu Tremboko dengan sisa-sisa tenaganya bangkit lagi. Lalu menancapkan Keris Kalanadah ke arahnya.

Prabu Pandudewanata masih sempat mengelak. Serangan Prabu Tremboko gagal menembus jantung sang guru. Tetapi tendangan kaki raja Astina yang menangkis sabetan Keris Kalanadah membuat pusaka yang terbuat dari taring Bathara Kala itu justru menancap di kakinya.

Sang guru pun ikut roboh, bersamaan dengan tumbangnya Prabu Tremboko yang menghembuskan napas terakhir.

Melihat rajanya tewas, kocar-kacir pasukan bangsa raksasa dari Pringgodani berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan Astina.

Prabu Pandudewanata yang kesakitan segera dibawa masuk ke istana Astina.


~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita selanjutnya [ Disini ]
Cerita sebelumnya [ Disini ] 

5 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *