Kamis, 22 Juni 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (3)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana


KINANTHI 1
Telah sampai di Giri, sakit ibunya kian parah, disambut oleh para saudagar, kedatangan Kanjeng Sunan Giri, Wali Allah yang memiliki karomah, dihampirilah ibunya.

KINANTHI 2
Terkejutlah (sang ibu) lalu bangkit dan memeluk, diciumi sang anak, air matanya jatuh berderai, rintihnya sungguh menyedihkan, duh anakku, yang menjadi sandaran hati.

KINANTHI 3
Kurang sedikit saja terlewat, ananda tidak bisa bertemu ibu, akhirnya datang nyawa yang telah lama, pergi berguru mengaji, oh sungguh tak kusangka, (kita) bisa bertemu lagi.

KINANTHI 4
Seketika aura wajahnya berseri, berbinar bagai terkena sinar dari langit, mendapatkan anugrah, Kanjeng Sunan berkata pelan, mohon restumu ibu, telah terucap olehnya.

KINANTHI 5
Sang ibu merasa sangat bahagia, sempurnakan aku nak, memeluk agama Islam, lalu segera di-syahadat-kan, dua kalimat yang dituntunkan, sang ibu dengan terang menerimanya.

-o0o-

Prabu Brawijaya tidak tenang dengan adanya ke-Wali-an di Giri, maka dikirimlah Patih Gajah Tanada bersama pasukannya untuk menaklukkan Giri. Pasukan Majapahit justru porak poranda oleh sebuah keris yang berasal dari pena yang biasa digunakan menulis oleh Kanjeng Sunan Giri. Keris itu lalu diberi nama Kalam-Munyeng. Sunan Giri wafat lalu digantikan putranya (Sunan Giri Kedhaton). Putranya wafat, digantikan cucunya, dijuluki Sunan Giri Prapen.

Prabu Brawijaya kembali melanjutkan rencana menaklukkan Giri, tetapi tidak berhasil karena pasukannya diserang oleh ribuan ekor lebah yang keluar dari makam Sunan Giri.

Akhirnya, Majapahit justru hancur oleh putranya sendiri, Raden Patah. Sunan Giri Prapen berhak menjadi pemimpin (dalam agama) selama 40 hari. Tahta selanjutnya diserahkan kepada Raden Patah. Dinobatkan menjadi raja di Demak.

-o0o-

KINANTHI 6
Telah terang hatiku nak, tiada khawatir lagi di hati, semoga (hidup) kamu sejahtera, tetaplah kamu membimbing, saudara-saudaramu para saudagar, di pesantren Giri.

KINANTHI 7
Nanti sepeninggalku, semua harta ibu, sedekahkanlah di jalannya, fakir miskin anak yatim, dan gunakan untuk biaya (menunaikan) amanah, berhaji ke negeri Mekah.

KINANTHI 8
Ingatlah pesan terakhirku ini nak, Ni Samboja lalu meninggal, setelah disucikan, jasadnya dikuburkan di dekat, suaminya Kyai Samboja, yang juga orang Giri.

KINANTHI 9
Marak permintaan, kepada Kanjeng Sunan Giri, semua mendapat petunjuk iman, menjalani syariat Nabi, beribadah tadarusan Al-Qur’an, banyak yang mendirikan Masjid.

KINANTHI 10
Semakin makmur dan banyak pengikutnya, tidak ada yang berperilaku buruk, semua tercukupi sandang pangan, jauh (dari kata ada) yang miskin, terciptalah ketentraman dan kesejahteraan.

............

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]

Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

1 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *