Jumat, 23 Juni 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (5)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana


KINANTHI 21
Sang ulama berkata pelan, kepada pasukan (pengikutnya), kalian semua lihatlah, dan jadilah saksi, pusaka ini kuberi nama, si Kalam Munyeng yang baik.

KINANTHI 22
Semua pengikutnya menjawab dengan bersahutan, lalu semua kembali, ke tempat tinggal masing-masing, lestari(aman)lah pesantren Giri, dengan dinobatkannya Kanjeng Sunan, sebagai Prabu Satmata yang memiliki ilmu lebih.

KINANTHI 23
Makmur dan semakin ramai, semakin tecukupi kebutuhan hidup pengikutnya, tidak ada yang miskin, setelah berselang lama, Sunan Giri menderita sakit, datanglah kehendak takdir.

KINANTHI 24
Pulang ke rahamatullah, pecah tangis di dalam puri, laki perempuan semua berduka, setelah jasad disucikan, dimakamkan tidak jauh, dari tempat tinggal beliau.

KINANTHI 25
Mangkatnya (Sunan Giri) meninggalkan keturunan, sepuluh anak laki-laki dan perempuan, yang dua dari istri pertama, dialah Pangeran Pasirbata, dan Siti Rohbayat, yang delapan dari istri kedua.

KINANTHI 26
Disebut Nyi Geng Ratu, nama yang diberikan ke anak tertua, Ratu Gede di Kukusan, lalu Sunan Dalem, yang ketiga diberi nama, Sunan Tegalwangi.

KINANTHI 27
Empat Nyi Geng Saluluhur, lima iya Sunan Luhur, Ratu Gedhe, Sunan Kulon yang ketujuh, Sunan Waruju bungsunya, diceritakan dengan jelas.

KINANTHI 28
Setelah dimakamkan, berkumpullah para kerabat Giri, membahas siapa yang akan menggantikannya, kedudukan Sunan Giri, semua kerabat telah sepakat, Sunan Dalem yang menggantikan.

KINANTHI 29
Maka diangkatlah dia dengan julukan, Sunan Giri Kedua, Sunan Giri Kedhaton, menikahi dua istri, belum sempat tersyohor (berjaya), Kanjeng Sunan telah tiada.

KINANTHI 30
Pulang ke rahamatullah, juga dimakamkan di Giri, meninggalkan sepuluh anak, bungsunya Sunan Sedarmagi, yang kedua dikenal, Sunan Giri Prapen Adi.

KINANTHI 31
Ketiga Nyi Geng Karugangurung, Nyi Geng Kulakan yang suci, Pangeran Lor, Pangeran Dheket, Pangeran Bongkok, lalu Nyi Ageng Waru namanya, dan Pangeran Bulu  kakak dari si bungsu.

KINANTHI 32
Bungsunya bernama Pangeran Sedalaut, setelah selesai mengurusi almarhum, dibahas siapa pantas menggantinya, berkumpullah semua pengikutnya, Sunan Prapen terpilih, (dia) memiliki ilmu lebih seperti eyangnya (Sunan Giri).

KINANTHI 33
Mandirinya Giri Kedhaton, disebut tetap abadi, Sunan Giri Prapen yang memiliki ilmu lebih, semua pengikutnya baik anak-anak maupun orang dewasa (rajin) sujud, terkenal hingga ke negeri lain, tiada pernah putus disuara(kabar)kan.

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *